Berita pendirian
IDI Cabang Surabaya
Terdiri dari 46 anggota pertama dari warga Surabaya dan 6 anggota dari non-warga Surabaya
Nieuwe Courant 2 Desember 1950.

Organisasi profesi resmi yang menaungi dokter di wilayah Surabaya.

Sebagai komunitas yang terdidik dalam hal patofisiologi, atau ilmu tentang penyakit tubuh manusia, dokter adalah pribadi yang peka terhadap proses yang tidak normal (patologis), di antara sesuatu yang normal (fisiologis). Kepekaan itu tidak hanya muncul pada keseharian praktik medis, tapi juga bisa ditemukan dalam pandangan dokter di skala yang lebih luas, yaitu dalam lingkup organik kebangsaan dan nasionalisme, di mana dokter menjadi satu bagian dari sistem yang luas dan saling terkait.
Pada era perjuangan kemerdekaan Indonesia, komunitas dokter pendahulu yang mendapatkan pendidikan kedokteran di STOVIA merasakan bahwa bangsa mereka, bangsa Indonesia, adalah bangsa yang sedang sakit, kekurangan nutrisi, dan gagal bertumbuh karena "penyakit" yang disebut penjajahan. Oleh karena itu, pada masa mula Kebangkitan Nasional, sejarah mencatat bahwa para dokter memiliki andil besar dalam inisiasi merawat dan mengobati bangsa menuju kembalinya martabat rakyat dan kemerdekaan.
Dalam lingkup yang lebih kecil, kita juga bisa melihat upaya para dokter bumiputera merespon tekanan rasial dan diskriminasi dari dokter-dokter Eropa. Ekosistem pelayanan kesehatan di Nusantara pada awal abad ke-20 didominasi oleh dokter Pemerintahan Belanda, dengan kesenjangan upah, wewenang medis, dan kesempatan ilmiah yang sangat timpang. Adanya "penyakit kesenjangan profesional" ini disadari oleh dr. Tehupieory dan dr. Boenjamin, dua dokter bumiputera lulusan STOVIA untuk menyatukan sejawat dokter bumiputera seluruh Nusantara dalam asosiasi dokter bumiputera pertama di Indonesia. Dari beliau-beliau tersebut, kemudian lahir Vereeniging Inlandsche Geneeskundigen (VIG), atau Persatuan Dokter Bumiputera. Perkumpulan ini diresmikan di gedung STOVIA pada 17 September 1909.
VIG pada sejak awal begitu aktif melawan tekanan dari sejawat Eropa mereka, dengan mengadakan aksi dan advokasi untuk meningkatkan kesejahteraan dokter pribumi, kesempatan yang sama dalam pendidikan kedokteran tingkat lanjut, kesetaraan dalam publikasi ilmiah, dan sebagainya. Tokoh-tokoh VIG dari Surabaya dalam hal ini tercatat berperan penting dalam upaya ini, sebut saja dr. Slamet Sudibyo, anggota VIG Surabaya yang mengkritik Pemerintah Belanda agar sekolah dokter di Surabaya, NIAS, bisa setara dengan sekolah dokter di Jakarta. Kemudian dr. Soetomo, yang membuka jalan bagi dokter bumiputera untuk bisa mempublikasikan karya ilmiah di jurnal ilmiah bergengsi, Geneeskundig Tijdschrift voor Nederlandsch Indie, yang sebelumnya hanya menerima karya ilmiah dokter Belanda.
Masa Perang Dunia Kedua sempat membuat kohesi dokter Indonesia terganggu, karena banyak dokter Indonesia yang menjadi korban perang dan represi politik tentara Jepang. Dalam situasi itu, komunitas dokter Surabaya mempertahankan persatuan profesi mereka secara lokal dengan membentuk Bond van Geneesheren Soerabaja (BvGS). BvGS pada masanya adalah organisasi yang sangat aktif mengkritik pemerintah Belanda, dalam hal ini pemerintah Kota Surabaya perihal hak dan wewenang dokter bumiputera di Surabaya.
Anggota BvGS dari Surabaya adalah salah satu kelompok yang selanjutnya sangat mendorong kembalinya kesatuan asosiasi profesi dokter di Indonesia, hingga terbentuknya Ikatan Dokter Indonesia pada kongresnya yang pertama pada tanggal 22-25 September 1950 di Jakarta. Pada kongres tersebut, BvGS Surabaya diwakili oleh dr. Abdoel Manap, yang berpendapat bahwa nama Ikatan Dokter Indonesia adalah nama yang bisa menyatukan seluruh dokter Indonesia dalam satu nafas kebangsaan Indonesia.
Sepulang dari kongres pertama IDI tahun 1950, dr. Abdoel Manap segera melakukan konsolidasi bersama sejawat dokter di Surabaya, membentuk salah satu cabang IDI yang pertama di Indonesia dengan rapat di Gedung Gubernur Jawa Timur pada 30 Oktober 1950 jam 20.30. Berita koran sezaman mencatat bahwa IDI Cabang Surabaya berdiri pada 7 Desember 1950, kurang dari tiga bulan setelah IDI terbentuk, dengan dr. Wasito ditunjuk sebagai ketua yang pertama. Sejauh ini, mungkin IDI Surabaya adalah cabang tertua di Indonesia.
Sepanjang sejarahnya, IDI Surabaya menunjukkan daya juang yang tinggi dalam keprofesian, pengabdian masyarakat, dan prestise ilmiah, sejak era pra-kemerdekaan, hingga era kini. Dalam hal tersebut, anggota IDI Surabaya sudah membuktikan diri sebagai bagian IDI yang konsisten dalam semangat kongres IDI 1950 dengan berbagai cita-citanya.
Program dr. Wasito semasa jadi ketua IDI Cabang Surabaya yang tercatat di berita:
Terdiri dari 46 anggota pertama dari warga Surabaya dan 6 anggota dari non-warga Surabaya
Nieuwe Courant 2 Desember 1950.
Undangan kepada para dokter di Surabaya untuk rapat tanggal 30 Oktober di kantor gubernur untuk membahas dan merespon hasil kongres IDI pertama di Jakarta.
Nieuwe Courant 28 Oktober 1950.
"Malam Klinis" ini mungkin sejenis webinar "Dolan" IDI Surabaya yang diadakan mingguan.
dr. Oesman Asnar mungkin juga orang tua dr. Elyana Asnar (Dept. Faal), mertua Prof. Taat.
Dokumentasi nama dr. Wasito yang tercantum dalam prasasti alumni NIAS sebagai bagian dari jejak sejarah pendidikan kedokteran dan kontribusi para dokter alumni NIAS di Indonesia.
Visi
Menjadikan IDI Cabang Surabaya sebagai rumah besar dokter Surabaya yang menjunjung etik, kesejawatan, profesionalisme, dan kesejahteraan.
IDI Cabang Surabaya
Berkomitmen meningkatkan kompetensi, kolaborasi, dan kontribusi dokter di dunia kesehatan

Memberikan pendampingan, perlindungan profesi, serta bantuan hukum bagi anggota IDI Cabang Surabaya dalam menjalankan praktik kedokteran secara profesional.

Meningkatkan kapasitas kepemimpinan dan pemahaman hukum bagi dokter melalui pelatihan, seminar, dan program pengembangan profesional.

Inisiatif kesehatan masyarakat yang menghadirkan edukasi, pencegahan penyakit, dan layanan kesehatan yang lebih mudah diakses warga Surabaya.

Tim respons medis yang siap memberikan bantuan kesehatan dalam situasi darurat, bencana, dan krisis kemanusiaan.

Unit usaha resmi IDI Cabang Surabaya yang menyediakan berbagai produk dan layanan untuk mendukung kebutuhan anggota serta organisasi.

Pusat pelatihan dan pengembangan kompetensi dokter melalui workshop, sertifikasi, simulasi klinis, dan pendidikan berkelanjutan.
Perjalanan para ketua Ikatan Dokter Indonesia Cabang Surabaya dalam membangun dedikasi dan pengabdian bagi kemajuan dunia kesehatan dari masa ke masa.
2025 - Sekarang
dr. Muhammad Shoifi, Sp.OT(K)
2017 - 2025

Dr. dr. Brahmana Askandar, Sp.OG(K), Subsp. Onk.
2011-2017

Dr. dr. Poedjo Hartono, Sp.OG(K), Subsp. Onk.
2005-2011

dr. Poernomo Boedi Setiawan, Sp.PD, Subsp. GEH (K)
1998-2004

dr. Pranawa, Sp.PD, Subsp. G.H. (K)
1991-1997

dr. Soedoko Sidhoetomo, Sp.PA
1989-1991
Dr. Moedjono
1982-1989

Prof. Dr. dr. Soekarman
1978-1982

Dr. H. Santoso
1975-1978

Prof. Dr. R. Soedarso Djojonegoro
1965-1975

Dr. dr. Soendoro Kartosoehardjo
1961-1965
Dr. dr. Moeljono Djojopranoto
1953-1961

Prof. Dr. M. Soetopo
1951-1953

Dr. Wasito